Tahun 2010 baru saja menapaki 2 hari dan rasanya masih seperti hari hari kemarin, nggak ada yang spesial. Malam tahun barupun saya lalui di rumah saja bersama keluarga. Dipenghujung malam tahun baru saya ingat kejadian yang saya alami pada tanggal 20 Oktober 2009. Dari sekian banyak kejadian sepanjang 2009 rasanya cuma tanggal itu yang begitu membekas. Siang itu saya mendapatkan email dari coordinating principal pak Ardianto yang intinya mengaharapkan saya hadir di ruangan executive principal pak Dave Forbes pada pukul 12.00.
Sayapun datang tepat waktu dan dengan sedikit basa basi saya menjadi tahu mengapa saya dipanggil, katanya sih mereka berdua ditugasi oleh yayasan untuk memanggil beberapa guru. Singkat cerita atasan saya tersebut mengajukan 5 pertanyaan seputar sikap saya terhadap perkembangan sekolah. Jawaban saya atas semua pertanyaantersebut sangat standar dan normal banget. Pertanyaan tersebut diajukan karena mungkin saya termasuk guru yang tergolong “tradisional” yang nggak mau mengikuti perubahan perubahan yang tengah terjadi di sekolah [menurut pemahanam mereka]. Saya pribadi rada kaget juga dengan stigma “guru tradisional’ tersebut. Apakah mereka mereka yang memahami IB dan Cambridge adalah guru yang yang hebat…..yang non tradisional….???. Menurut saya kesimpulan mereka bahwa saya adalah guru tradisional sangat prematur banget….seolah olah orang berseberangan pendapat dengan mereka adalah musuh yang harus dihancurkan……
Diujung pertemuan tersebut pertanyaan yang saya tunggupun akhirnya muncul. Pertanyaan ke 6 yang mereka ajukan adalah “apakah saya mau menerima tawaran pensiun dini ”. Jujur saja pertanyaan tersebut tidak mengejutkan saya, karena isu tentang akan “dibabatnya’ beberapa guru sudah saya dengar pada hari Rabu 15 September 2009. Isu tersebut saya dengar dari rekan guru juga, pak Habbiburahman. Di terminal bis Taliwang sekitar pukul 10.00, Pak Habib mengatakan bahwa akan ada beberapa guru yang akan dipanggil dan ditawarkan paket perpisahan. Lebih jauh pak Habib menyebutkan nama yang ada di list tersebut yaitu pak Kukuh, bu Endah, pak Puji, bu Ning, bu Siti, bu Ida dan satu nama lagi yang pak Habib lupa katanya, tapi saya yakin nama terakhir tersebut adalah saya. Mungkin pak Habib nggak enak hati dan berat untuk mengatakannya pada saya, hanya saja pak Habib lupa kalo pada saat itu beliau sedang ngomong dengan seorang psikolog yang punya sedikit kemampuan untuk membaca body language…..
Pertanyaan ke 6 tersebut saya jawab bahwa saya masih betah disekolah dan jika saatnya tiba saya akan mundur atas keinginan saya dan tanpa perlu diberi pesangon……jujur aja di jaman susah kaya begini siapa yang mau pensiun dini………dan saya bersyukur pada Allah karena hari ini bisa berkatarsis……lega dan plong rasanya…………….
Kabar wafatnya gus Dur menjadi news breaking di Metro TV, bahkan sebagai bentuk penghormatan Metro pada salah satu tokoh bangsa Indonesiai, stasiun TV ini mengulas penuh apa saja tentang gus Dur, semua rekaman tentang gus Dur diulas kembali dan membuat memori saya tentang gus Dur kembali muncul.
Terkejut adalah kata yang muncul saat saya menyalakan TV kemarin malam [selasa 30 Desember 2009] cucu mbah Hasyim kembali menghadap sang khalik dan begitu banyak orang yang mengantar kepergian beliau ke peristirahatan terakhirnya menunjukkan kualitasi diri gus Dur, kualitas diri yang sulit untuk bisa dipahami oleh semua orang…..jargon ‘gitu aja koq repot” kembali menggema mengantar kepergiannya….
Sulit sekali untuk mendapatkan pengganti tokoh “nyeleneh” ini. Selamat jalan gus……..
Kasih ibu kepada beta
Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi tak harap kembali
Bagai sang surya menyinari dunia
Sepenggal lagu masa kecil yang bagi saya sangat berarti dan samar samar masih terbayang saat tahun 70 an ibu saya sering menyanyikan lagu itu saat kami berkumpul bersama, terutama pada saat bulan purnama, dimana semua anak anak pada keluar rumah sambil bermain menikmati terangnya malam. Maklum saja pada masa itu kawasan di Jalan Melati Pekan Baru belum terjamah listrik.
si mbok [begitu biasa saya memanggilnya] yang saat ini menapaki 70 tahun masih terlihat segar dan masih dengan setia menemani ayah saya. Tugas tugas rutin sebagai wanita masih beliau kerjakan. Memasak sampai mencuci pakaian suami tercinta masih beliau lakukan. Sesekali beliau mengunjungi cucu cucunya yang berjumlah 13 orang. Ibu seorang wanita desa yang sejak balita sudah menjadi yatim piatu dan akhirnya beliau diasuh oleh kakak kakaknya. Kehidupan masa kecilnya dilalui seprti anak pada umumnya, tidak terlalu keras, mungkin karena ibu anak bungsu dan yatim piatu lagi, sehingga kakak kakaknya amat dekat dengannya. Ibu pernah cerita, baginya kakak kakaknya adalah orang tua juga. Karena ikuit kakaknya maka pendidikan ibu pun “ala kadarnya” . Ibu tidak sempat menyelesaikan pendidikan menengah pertama karena harus hijrah mengikuti kakaknya sebagai prajurit angkatan laut menuju Padang Sumatera Barat.
Syukurlah semangat ibu untuk mencerdaskan anaknya patut dicontoh. Saya ingat pasti bahwa anak anaknya “wajib” sekolah, kecuali karena dua hal LIBUR SEKOLAH atau SAKIT. Didikannya sangat keras, nggak jarang mulut saya diberi “cabe” atau “terasi” jika saya mengucapkan kata kata yang kurang bagus. Saya juga ingat waktu saya mulai kuliah, satu pesan yang dia katakana ‘ora usah neko-neko” maksudnya tugas saya cuma kuliah dan cepat selesai. Jangan ikut demonstrasi mahasiswa begitu katanya berulang ulang. Rasa khawatir ibu begitu besar.
Saat saya mulai “berpenghasilan” ada kejadian yang begitu membekas. Ceritanya saya lagi cuti di rumah dan pakaian kotor saya menumpuk. Kemudian ibu mengambil pakaian kotor tersebut dan hendak mencucinya. Saya katakan biar saya saja yang mencuci……selanjutnya satu dua hari kemudian saya perhatikan ada perubahan perhatian ibu kepada saya, sikapnya tidak seperti biasa. Saya cari informasi dari kakak saya mengapa ibu berubah. Ternyata ibu agak kecewa dengan saya karena saya menghalangi niat ibu untuk mencuci pakaian saya……..dan tugas saya untuk menjelaskan itu kepada ibu sungguh berat. Saya mencoba menyampaikan semuanya dengan nada ‘guyon” agar ibu tidak semakin kecewa dengan sikap saya. Jujur saja ada pelajaran menarik dari kisah tersebut yang saya dapatkan….
Selamat hari ibu untuk semua ibu Indonesia, khusus untuk si Mbok yang saya yakin tidak akan pernah membaca tulisan ini [karena ibu sama sekali gaptek] saya sampaikan I love You Full……….saya bahagia dan bangga menjadi anak ibu……